Rangkuman Kesehatan Mental

REAKSI – REAKSI SIMTOM KHUSUS

 

Ada beberapa simtom yang terjadi pada masa bayi, masa kanak-kanak, dan mungkin juga tetap bertahan sampai pada masa dewasa. Hal ini bisa terjadi sebagai kesulitan utama yang tidak bisa dibuktikan adanya suatu psikopatologi lain, atau bisa juga merupakan ungkapan simtomatik dari patologi yang lebih luas. Meskipus tidak menunjukan gangguan mental yang serius, tetapi sintom tersebut merupakan masalah-masalah praktis yang sangat penting dalam kehidupan keluarga dan kehidupan sekolah anak, dan mungkin kali ini menjadi reaksi-reaksi emosional sekunder yang menguntungkan.

 

Reaksi-reaksi simtom khusus ini meliputi gangguan tingkah laku disruptif, gangguan perkembangan, gangguan makan, gangguan eliminasi, gangguan tidur, gangguan kecemasan pada masa kanak-kanak, dan gangguan kebiasaan.

 

GANGGUAN-GANGGUAN TINGKAH LAKU DISRUPTIF

 

Dua gangguan tingkah laku disruptif adalah hiperaktivitas (reaksi hiperkinetik) dan gangguan-gangguan tingkah laku (conduct disorders). Perbedaan kedua gangguan ini adalah tingkah laku individu-individu yang mengalami gangguan hiperaktivitas tidak dapat di kontrol, sedangkan tingkah laku individu-individu yang mengalami gangguan-gangguan tingkah laku yang dapat di kontrol.

 

GANGGUAN HIPERAKTIVITAS

 

Gangguan hiperaktivitas tidak mampu memusatkan perhatian dalam jangka waktu yang sama yang mengakibatakan munculnya bermacam-macam tingkah laku disruptif dan impulsif. Berlari, memanjat, dan berbicara tanpa memperhatikan apakah pembicaraanya itu cocok atau tidak. Dalam jangka waktu yang lama, tingkah laku yang tidak tepat dan kurang adanya perhatian dapat menyebabkan masalah-masalah pribadi, sosial, serta akademis yang berat. Gangguan ini terdapat pada anak-anak yang berusia sebelum 7 tahun dan biasanya lebih banyak terdapat pada anak laki laki daripada anak perempuan.

 

Simtom

Simtom utama dari gangguan hiperaktivitas adalah tidak mampu mempertahankan perhatian. Anak-anak yang mengalami gangguan ini tidak dapat mendengar petunjuk-petunjuk yang di berikan, dan perhatiannya mudah beralih, serta seringkali tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang di lakukannya. Mereka cepat sekali berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.

 

Ciri khas lain yang penting dari gangguan ini adalah tingkat aktivitas yang yangat tinggi. Sulit sekali untuk bisa duduk dengan tenang, selalu bergerak seolah olah meraka di gerakan oleh suatu motor berkecepatan tinggi dan tidak pernah berhenti.  

 

Simtom kedua adalah kesulitan-kesulitan berat dalam bidang akademis yang di sebabkan oleh ketidak mampuan belajar. Selalu menggangu atau merusak, bisa menghambat perkembangan sosial kerena meskipun anak anak yang mengalami gangguan ini sering di sukai sebagai “badut-badut kelas”.

Untuk bisa di diagnosis sebagai anak yang menderita gangguan hiperaktivitas, anak tersebut harus tetap memperlihatkan sekurang kurangnya delapan dari tingkah laku- tingkah laku yang berikut dalam jangka waktu 6 bulan.

 

  1. Tangan dan kakinya selalu bergerak atau menggeliat geliat di tempat duduk.
  2. Jika di perintahkan untuk duduk, sulit untuk tetap duduk.
  3. Mudah terganggu oleh stimulus-stimulus dari luar.
  4. Sulit menunggu gilirannya dalam permainan atau situasi kelompok.
  5. Seringkali menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelum selesai di tanyakan.
  6. Sulit melaksanakan perintah.
  7. Sulit mempertahankan perhatian.
  8. Seringkali berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
  9. Sulit bermain dengan tenang.
  10. Berbicara terlalu banyak (cerewet).
  11. Seringkali mencampuri urusan orang lain.
  12. Seringkali melupakan hal hal yang di butuhkan untukl tugas tugas.

 

Hal-hal Yang Berkaitan Dengan Hiperaktivitas

 

Apakah ada akibat-akibat jangka panjang dari tingkahlaku hiperaktivitas itu ?

Masalah ini bersifat sementara yang di alami pada masa kanak kanak. Tetapi, beberapa

orang mengemukakan bahwa gangguan itu merupakan masalah yang berat dan tetap bertahan sampai masa dewasa. Untuk menentukan apakah ada akibat-akibat jangka panjang dari gangguan itu, para peneliti melakukan kira-kira sebanyak 25 penelitian. Hasil dari penelitian itu menunjukan bahwa antara 30-80% dari anak-anak yang mengalami superaktivitas itu memperlihatkan suatu bentuk tingkah laku abnormal ketika menjadi orang dewasa muda. Hal ini menyebabkan masalah-masalah yang berat seperti skizrofrenia, tetapi beresiko tinggi untuk mengembangkan gangguan seperti tingkah laku anti sosial.

 

               Kelihatan bahwa simtom-simtom khusus yang terdapat pada masa kanak-kanak mungkin tetap melekat pada masa dewasa sekurang-kurangnya dalam bentuk-bentuk yang ringan. Berbagai masalah yang menyangkut kekurangan perhatian dan impulsivitas mengemukakan bahwa gangguan hiperaktivitas adalah suatu gangguan dan bukan masalah perkembangan yang tertunda.

 

               Penemuan yang menarik dan yang ada kaitannya dengan hiperaktivitas adalah obat-obat yang pada umumnya dianggap sebagai obat stimulan, tetapi berfungsi sebagai obat-obat penenang pada anak-anak yang mengalami gangguan hiperaktivitas. Akibat dari berbagai macam obat ini telah dikenal sejak tahun 1937 dan secara luas disebut akibat obat yang paradoksikal.

 

               Mengenai obat paradoksikal, yakni yang pertama adalah penelitian telah memperlihatkan nahwa obat stimulan juga mengandung akibat yang menenangkan pada anak-anak yang normal dan juga pada anak-anak yang mengalami gangguan seperti delinkuensi dan ketidakmampuan belajar. Selanjutnya, ada bukti bahwa anak-anak remaja dan juga orang-orang dewasa yang mengalami gangguan hiperaktivitas dapat dibantu dengan obat stimulan. Jelas bahwa akibat obat yang paradoksikal tidak terbatas pada anak-anak yang mengalami gangguan-gangguan hiperaktivitas.

 

               Yang kedua, penelitian telah menunjukan bahwa obat tersebut memungkikan anak-anak untuk lebih berkonsentrasi, dan konsentrasi yang meningkat itu mengurangi gangguan perhatian dan aktivitas mereka yang acak-acakan. Dengan kata lain, obat itu sendiri tidak berfungsi sebagai obat penenang, tetapi hanya berfungsi untuk membantiu memusatkan perhatian, yang pada giilirannya mengurangi tingkat tingkat aktiftas. Pada segi fisiologis, obat tersebut benar-benar mengandung akibat sebagai perangsang karena meningkatkan denyut jantung.

 

               Sangat menarik untuk di ketahui bahwa obat stimulan menyebabkan perhatian lebih terkonsentrasi dan meningkatkan denyut jantung orang dewasa, dengan demikian menambah bukti lebih banyak lagi. Dengan melihat konsistensi dari akibat obat tersebut untuk anak-anak yang kalut dan yang normal serta untuk anak-anak dan orang-orang dewasa, maka akibat obat tersebut kurang paradoks sebagaimana yang di pikirkan.

 

Penyebab

 

Pendekatan belajar dan kognitif berpendapat bahwa anak yang mengalami gangguan hbiperaktivitas tidak mempelajari strategi-strategi yang efektif untuk mengontrol dan memusatkan perhatian. Tetapi perhatian terhadap teori ini makin berkurang dan sekarang kebanyakan perhatian tertuju pada pendekatan fisiologis. Dalam hal ini, menarik untuk di ketahui bahwa gangguan hiperaktivitas pada mulanya di sebut sindrom kerusakan otak yang ringan (minimal brain damage syndrome). Selanjutnya, di kemukakan bahwa tanda-tanda masalah neorologis yang ringan (masalah-masalah motor yang berkenaan dengan persepsi, seperti tidak adanya koordinasai antara mata dan tangan) dan masalah-masalah neurologis yang khusus (retardasi, beberapa bentuk kelumpuhan otak) seringkali ada kaitannya dengan gangguan tersebut. Anak-anak yang sering mengalami gangguan hiperaktivitas memiliki lebih banyak anomali fisik yang ringan (penyimpangan-penyimpangan pada hemisfer dan bentuk telingga yang buruk) dan anomali-anommali ini di lihat sebagai akibat perkembangan embrio yang abnormal.

 

Para kritikus, mengemukakan bahwa adanya anomali-anomali ini tidak membedakan anak-anak yang mengalami gangguan hiperaktivitas dari anak-anak yang mengalami gangguan-gangguan seperti autisme, retardasi mental, dan gangguan-gangguan tingkah laku. Tetapi kritik yang di kemukakan itu tidak terlalu hebat karena diandaikan gangguan gangguan tersebut mungkin juga di sebabkan oleh suatu disfungsi otak organik, dan dengan demikian, akan terjadi anomali-anomali fisik.

 

Ada kemungkinan terdapat pada lobus frontalis, disfungsi otak mungkin mengurangi abilitas individu untuk menyaring atau mengabaikan stimulus-stimulus yang tidak relevan (suara-suara dari orang lain yang berbicara, gerakan-gerakan, dan sebagainya). Gangguan-gangguan yang di sebabkan oleh stimulus-stimulus yang tidak relevan itu mengganggu perhatian terhadap stimulus-stimulus yang relevan.

 

Kita telah mengidentifikasikan faktor faktor kehamilan, kelahiran, dan lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan hiperaktifitas. Beberapa kasus dari gangguan itu rupanya di sebabkan oleh infeksi pada jangka waktu 12 minggu pertama kehamilan atau di sebabkan oleh anoksia (kekurangan oksigen) pada proses kelahiran.

Mungkin yang terpenting dari faktor-faktor lingkungan itu adalah keracunan timah. Hal itu terjadi bila anak memakan kepingan cat yang mengandung timah atau bila anak menghirup udara yang sudah terpolusi oleh sisa sisa pembuangan dari mobil dengan bahan bakar bensin yang mengandung timah.

 

Faktor lingkungan yang lain adalah bahan-bahan tambahan makanan seperti warna, bahan-bahan pengawet, dan bumbu-bumbu. Sekitar 50% dari anak-anak yang hiperaktif dapat berfungsi lagi secara normal ketika di berikan makanan yang tidak mengandung bahan tambahan.

 

Tetapi, dalam penilitian-penelitian yang di kontol dengan baik di mana anak-anak hiperaktif di berikan makanan yang mengandung bahan bahan tambahan atau placebo, di temukan bahwa kasus-kasus hiperaktifitas yang di sebabkan oleh bahan bahan tambahan itu hanya sekitar 5%. Jelas bahwa akibat dari bahan bahan tambahan makanan tidak begitu kuat dan pervasif seperti yang di pikirkan.

 

Faktor-faktor genetik juga dilihat sebagai penyebab gangguan hiperaktivitas dan beberapa penemuan telah mendukung apa yang dikemukakan ini. Yang pertama, ditemukan bahwa sanak saudara biologis (terutama pria) dari anak-anak yang hiperaktif itu mengandung kemungkinan yang lebih besar menjadi anak-anak yang hiperaktif dibandingkan anak saudara angkat dari anak-anak yang hiperaktif itu. Kedua, tingkat-tingkat aktivitas untuk para anggota pasangan kembar identik (MZ) berkorelasi 0,96 tetapi tingkat – tingkat aktivitas para anggota pasangan kembar bersaudara hanya berkorelasi 0,59. Dengan demikian hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat aktivitas pada kembar identik (MZ) lebih banyak yang sama dibandingkam pada pasangan kembar bersaudara (DZ). Dan yang ketiga, orang tua dari anak – anak yang mengalami gangguan hiperaktivitas cenderung mengalami gangguan yang berhubungan dengan fungsi kognitif meskipun mereka sendiri tidak dapat didiagnosis sebagai orang – orang yang menderita kekurangan perhatian. Faktor – faktor genetik memainkan peran sekurang – kurangnya dalam beberapa kasus gangguan hiperaktivitas, tetapi mekanisme yang tepat bagaimana gangguan tersebut diteruskan merupakan masalah kompleks yang belum dipahami.

 

Perawatan

 

                Pendeketan psikologis maupun pendekatan fisiologis telah digunakan untuk merawat hiperaktivitas. Pendekatan psikologis mengajarkan kepada anak – anak prosedur – prosedur instruksi-diri. Gagasan yang mendasar ialah bila sebelum melakukan sesuatu anak – anak memikirkan secara mendalam apa yang ingin dilakukan, maka mereka akan bergerak dengan pelan – pelan dan bertindak dengan lebih tepat. Dengan prosedur ini, anak – anak diberi “kartu peringatan” yang berisi pertanyaan – pertanyaan: “apakah masalahnya” “bagaimana aku dapat melakukannya” “apakah aku sedang menggunakan rencanaku”, dimana mereka diberi suatu tugas, tetapi mereka harus mengungkapkannya dengan kata – kata apa yang ingin dilakukan sebelum melakukannya. Latihan ini biasanya dimulai diklinik, tetapi anak – anak dianjurkan untuk melakukan strategi – strategi yang sama dirumah dan di sekolah. Para orang tua dan guru juga dianjurkan untuk diberikan hadiah – hadiah pada anak – anak bila mereka melakukan dengan baik. Anak – anak yang kelihatan mampu mengontrol tingkah laku mereka diklinik, tetapi hasil tersebut tidak terjadi diluar klinik.

 

                Pendekatan fisiologis terhadap perawatan adalah dengan menggunakan obat yang disebut ritalin dan suatu obat yang tidak digunakan secara luas, yakni deksedrin. Obat – obat ini adalah obat – obat stimulan yang memberikan kemungkinan kepada anak – anak untuk dapat memusatkan perhatian dalam jangka waktu yang lama; dengan demikian, mengurangi perhatian yang mudah beralih dan tingkah laku yang tidak tepat. Dalam percobaan, peneliti membandingkan akibat – akibat dari placebo dan tiga kadar dosis tilatin mengenai permormasi akademis, tingkah lau negatif diruang kelas, dan tingkah laku yang berkenaan dengan tugas.

 

                Hasil yang sama dilaporkan dalam penelitian – penelitian lain, yakni bahwa obat – obatan cukup efektif untuk merawat sekitar 75% dari anak – anak yang mengalami gangguan hiperaktivitas. Dalam beberapa percobaan, obat – obatan tersebut memperbaiki tingkah laku sosial, tetapi tidak mempengaruhi performansi pada tes – tes prestasi baku sehingga dikemukakan bahwa akibat – akibat dari obat – obatan itu terbatas. Suatu periode perawatan yang berlangsung selama 6 atau 8 minggu tidak akan mempengaruhi performasi pada tes – tes yang mengukur tahun tahun pekerjaan akademis, dan perbaikan – perbaikan pada tes – tes itu hanya dapat dilihat sesudah obat – obatan digunakan dalam jangka waktu yang lama.

 

                Meskipun obat tersebut efektif untuk merawat gangguan hiperaktivitas, tetapi ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, kita harus hati – hati untuk tidak menggunakan obat itu kecuali kalau diperlukan. Penelitian – penelitian yang dilakukan oleh para guru dan orang tua menunjukan bahwa 50% dari semua anak tidak tenang, mudah mengalihkan perhatian atau hiperaktif. Tetapi, tidak mungkin bahwa semua anak itu mengalami gangguan hiperaktivitas dan tidak tepat juga kalau mengobati semua anak t6ersebut. Juga, obat tidak digunakan sebagai pengganti prosedur orang tua untuk mengontrol anak atau prosedur yang digunakan guru untuk mengontrol ruang kelas.

 

                Sebagai kesimpulannya dapat dikatakan bahwa pembicaraan mengenai gangguan hiperaktivitas adalah suatu gangguan yang real (benar – benar ada) atau hanya merupakan tingkah laku buruk atau suatu perkembangan yang tertunda. Kelihatan dari banyak kasus, perawatan dengan menggunakan obat adalah lebih efektif dibandingkan dengan perawatan lainnya. Tetapi dalam kasus lain, suatu pola sintom yang sama dengan gangguan hiperaktivitasmungkin karena adanya tanda – tanda tingkah laku yang buruk atau ketidakmatangan. Dalam kasus – kasus tersebut, program – program latihan psikologis mungkin dapat membantu mengatasi masalah itu. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa gangguan hiperaktivitas merupakan suatu kelompok diagnostik yang penting tetapi pola – pola simtom yang sama mungkin disebabkan oleh penyebab – penyebab yang berbeda dan kita harus hati – hati supaya tidak boleh menggunakan diagnosis yang sama tanpa membeda bedakan.

 

          Gangguan – Gangguan Tingkah Laku (Conduct Disorders)

               

                Simtom – simtom dari gangguan ini adalah pola tingkah laku buruk yang tetap dimana individu merusak aturan – aturan dan melanggar hak – hak orang lain. Gangguan ini terjadi kira kira sebesar 8% dari anak – anak yang berusia 10 dan 11 tahun didaerah – daerah perkotaan dan kira – kira 4% dari anak – anak daerah pedesaan.

 

                Gangguan tingkah laku adalah penting tidak hanya karena gangguan ini menyebabkan masalah pada waktu individu – individu tersebut masih anak – anak, tetapi juga karena gangguan ini ada hubungannya dengan tingkah laku disruptif dan kriminal dalam kehidupan selanjutnya.

 

Tipe – Tipe Gangguan Tingkah Laku

 

                Ada dua subtipe utama gangguan tingkah laku, yakni :

Tipe agresif soliter dan tipe kelompok. Ciri yang membedakan kedua tipe tersebut adalah apakah individu melakukan tingkah laku yang tidak tepat itu sendirian atau bersama – sama dengan orang lain, yakni seorang diri atau sebagai seorang anggota gang. Gangguan suka menantang dan melawan ditambahkan pada daftar gangguan – gangguan masa kanak – kanak dan dalam beberapa hal gangguan ini melibatkan tingkah laku yang sama dengan gangguan tingkah laku. Ciri – ciri khas dari individu – individu yang mengalami gangguan tingkah ini adalah negativistik, menantang, suka berdebat, dan bermusuhan. Mereka berbeda dari orang – orang yang mengalami gangguan tingkah laku lain, yakni bukan melakukan tindakan melawan orang lain, tetapi mereka secara aktif mempertahankan diri terhadap atau menantang orang – orang lain. Anak – anak yang mengalami gangguan suka menantang dan melawan ini mungkin hilang kesabaran (cepat marah), berdebat dengan orang – orang dewasa, tidak mau melakukan sesuatu kalau disuruh, dan dengan sengaja melakukan hal – hal untuk mengusik orang lain.

 

Simtom

 

  1. Mencuri lebih dari satu kali tanpa konfrontasi dengan korban
  2. Melarikian diri dari rumah selama semalam sekurang – krangnya dua kali pada waktu tinggal dirumah orang tua
  3. Sering berdusta (berbohong)
  4. Dengan sengaja melakukan pembakaran
  5. Sering membolos dari sekolah atau pekerjaannya
  6. Memasuki dengan paksa rumah, gedung, mall, atau mobil
  7. Dengan sengaja merusak harta milik orang lain
  8. Melakukan kekejaman fisik terhadap binatang
  9. Memaksa seseorang untuk melakukan aktivitas seksual
  10. Menggunakan senjata lebih dari satu kali dalam perkelahian
  11. Sering memulai perkelahian fisik
  12. Mencuri dengan melakukan konfrontasi dengan korban
  13. Melakukan keekjaman fisik terhadap orang lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GANGGUAN GANGGUAN PERKEMBANGAN

 

Autisme Kanak-kanak

 

Gangguan perkembangan pervasif (suatu ungkapan yang belakangan ini digunakan untuk mengacu pada masalh-masalah psikologis yang berat yang muncul pada masa bayi) adalah gangguan yang berat pada pertumbuhan kognitif, soaial, tingkah laku, dan emosional anak yang sangat mengahambat proses perkembangan (Lord dan Rutter, 1994 ; Rutter dan Schopler, 1987). Autisme mempengaruhi kualitas-kualitas manusia yang penting, yakni interaksi antarpribadi dan komunikasi. Anak-anak yang mengalami autisme memperlihatkan kerusakan berat pada interaksi interpersonal dan komunikasi.

 

Autisme kelihatan dalam dua jenis kelamin dengan frekuensi 3 atau 4 kali lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan (Bryson, 19996). Gangguan ini ditemukan dalam keluarga-keluarga di seluruh dunia dan dalam semua lapisan masyarakat ( Gilberg, 1990).

 

Simtom

Autism anak-anak merupakan suatu gangguan yang sangat berat dengan 3 simtom utama:

  • Simtom pertama

Anak yang menderita autisme kurang responsive terhadap orang lain. Anak yang menderita autisme kelihatannnya hidup didalam dunianya sendiri dan tidak memberikan respon kepada orang lain yang ada di sekitarnya. Ketika masih bayi, ia tidak menangis kalau ditinggalkan sendirian, tidak akan tersenyum kepada orang lain, dan tidak bersuara dalam memberikan respon terhadap sapaan orang lain. Bila diangkat, ia kaku atau tidak bersemangat (bergerak) dan tidak tidur melekuk pada tubuh orang tuanya seperti yang terjadi pada bayi-bayi normal.

  • Simtom kedua

gangguan komunikasi verbal dan non verbal. Bahkan pada usia 5 atau 6 tahun banyak anak autis sama sekali tidak menggunakan bahasa.

  • Simtom ketiga

Aktivitas-akitivas dan minat-minat yang terbatas dan diulang-ulang. Anak autis mungkin duduk sendirian selama berjam-jam dengn tatapan yang tetap (tidak berubah-ubah) atau berpaling kemuka dan kebelakang tanpa henti-hentinya

 

Autisme kanak-kanak versus skizofrenia kanak-kanak

Ada bermacam-macam faktor yang memisahkan autisme kanak-kanak dari skizofrenia kanak-kanak:

  1. Anak-anak yang menderita autisme jarang memilikim sejarah skizofrenia dalam keluarga. Tetapi sebaliknya, orang-orang yang menderita skizofrenia memiliki sejarah tersebut dalam keluarga (Rimland, 1964)
  2. Anak-anak yang menderita autisme seringkali memperlihatkan perkembangan intelektual yang kurang, tetapi tidak demikian halnya dengan anak-anak yang menderita skizofrenia
  3. Anak-anak yang menderita austime berbicara secara terbatas, sedangkan anak-anak yang menderita skizofrenia memiliki kemampuan berbicara yang normal

 

Penyebab

  • Pendekatan psikodinamik

Penejelasan-penjelasan psikodinamik awal tentang autisme berfokus pada peran dari kepribadian orang tua dan gaya mereka dalam mengasuh anak-anak.

  • Pendekatan belajar

Para ahli teori belajar mengemukakan bahwa tingkah laku abnormal dari anak autis (misalnya merasa malu, tidak beroperatif, marah, mutisme) sering diberikan hadiah-hadiah (prhatian,makanan, mainan) yang dirancang untuk mengalihkan perhatian anak dan mengurangi tingkah laku abnormal (Fester,1961)

  • Pendekatan fisiologis

Perbandingan-perbandingan antara individu-individu autis dan yang tidak tidak autis telah memperlihatkan bermacam-macam perbedaan fisiologis.

 

Perawatan

Bermacam-macam pendekatan telah digunakan untuk merawat autisme kanak-kanak, tetapi tidak satupun dari pendekatan itu yang efektif. Pada waktu pendekatan psikodinamik (psikoanalisis) terhadap autisme dominan, maka perawatan dilakukan menurut pendekatan ini. Tetapi nyatanya progam tersebut tidak efektif untuk merawat anak-anak autis (Levitt, 1963 ; Rimland, 1974)

 

Gangguan-gangguan perkembangan pervasif yang lain

  • Gangguan Rett

Gangguan ini hanya terbatas pda wanita dan berlangsung sepanjang hidup. Cirri-ciri utama dari gangguan ini, yaitu:

  1. Perkembangan motor berlangsung secara normal sampai usia 5 bulan dan setelah itu munculah gangguan-gangguan seperti kehilangan sebagian atau seluruh ketrampilan tangan dan bahasa yang telah diperoleh sebelumnya
  2. Ukuran kepala adalah normal pada waktu kelahiran, tetapi pertumbuhan kepala mulai berkurang antara usia 5 bulan sampai 4 tahun
  3. Kemampuan gerakan tangan yang memiliki tujuan dan ketrampilan manipulasi dari motor halus yang telah terlatih menjadi hilang (antara usia 5 bulan sampai 2,5 tahun)
  4. Gerakan seperti mencuci tangan yang stereo tipis dengan fleksi lengan didepan

 

  • Gangguan asperger

Gangguan ini pada umumnya terdapat pada anak laki-laki dan dalam kebanyakan kasus berlangsung sepanjang hidup. Cirri-ciri utama dari gangguan ini:

  1. Tidak ada hambatan atau ketrlambatan umum dalam prkembangan bahasa atau prekembangan kognitif
  2. Terjadi defisiensi dalam interaksi sosial dan perkembangan pola-pola tinkah laku dan aktivitas-aktivitas yang trbatas dan stereotipis
  3. Meskipun sama dengan autisme, tetapi pada gangguan asperger sering kurang ada penyimpangan dalam bahasa dan komunikasi

 

  • Gangguan Disintergrasi masa kanak-kanak

Gangguan ini lebih umum terdapat pada anak laki-laki dan berlangsung sepanjang hidup. Cirri-ciri utama:

  1. Sesudah anak mengalami perkembangan normal dalam berkomunikasi, hubungan sosial, permainan, dan tingkah laku adaptif samapai usia 2 tahun, maka di susun oleh regresi yang berat dan hilangnya keterampilan-keterampilan tersebut sebelum usia 10 tahun
  2. Hilangnya pengendalian buang air besar atau kecil dan kadang- kadanng disertai dengan kemerosotan pengendalian motorik
  3. Hilangnya minat atau perhatian terhadap lingkungan
  4. Adanya manerisme motorik yang stereotipis dan diulang-ulang
  5. Kekurangan interaksi sosial dan komunikasi yang sama dengan autisme, dan terjadi retardasi yang berat

 

  • Gangguan-gangguan perkembangan khusus

Disini akan disinggung gangguan-gangguan perkmbangan khusus yang disebut juga ketidakmampuan-ketidakmampuan belajar yang relatif baru dan berbeda dengan autisme kanak-kanak. Efek-efek dari gangguan ini sangata khusus karena itu disebut gangguan-gangguan perkembangan khusus.

 

  • Gangguan-ganggun ketrampilan akademis

Gangguan ini meliputi gangguan berhitung, gangguan menulis, gangguan membaca.

 

  1. Gangguan berhitung

Anak-anak yang mengalami gangguan ini akan mendapat kesulitan behitung, yakni anak mengalami kesulitan dalam memahami istilah-istilah matematika dan bagaimana istilah-istilah itu beroperasi

 

  1. Gangguan menulis

Gangguan ini berupa kesalan-kesalahan dalam mengeja, tata bahasa, tanda baca, atau kesulitan dalam menyusun kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf

 

  1. Gangguan membaca

Ciri dari gangguan membaca atau disebut juga dyslexiaadalah kurang terampil dalam mengenali kata-kata dan memahami teks yang tertulis

 

  • Gangguan-gangguan bahasa dan bicara
  1. Gangguan artikulasi

Gangguan ini menyangkut kesulitan dalam mengertikulasikan bunyi-bunyi dalam bicara meskipun tidak ada cacat pada mulut atau gangguan neurologis.

  1. Gangguan bahasa ekspresif

Gangguan ini menyangkut bahasa lisan, seperti perkembangan kosakata yang lambat, seringkali salah dalam menggunakan bahasa, kesulitan-kesulitan dengan tata bahasa.

  1. Gangguan bahasa reseptif

Gangguan ini berupa kesulitan dalam memahami bahasa lisan.

 

  • Gangguan keterampilan motor

Anak-anak yang mengalami gangguan ini memperlihatkan kesulitan yang jelas dalam perkembangan koordinnasi motor dan bukan disebabkan oleh retardasi mental atau gangguan fisik yang diketahui.

 

Ada beberapa strategi, yaitu strategi yang menggunakan beberapa model pendekatan lain dan beberpa diantaranya akan dikemukakan dalam uraian berikut (Lyon dan Muats, 1988)

  1. Model psikoedukasional

Pendekatan-pendekatan psikoedukasional memberi penekanan pada kekuatan-kekuatan dan preferensi-preferensi anak dan bukan pada usah-usaha untuk memperbaiki cacat-cacat kognitif mendasar yang direka-reka.

  1. Model tingkah laku

Model tingkah laku ini mengasumsikan bahwa belajar akademis merupakan suatu bentuk tingkah laku kompleks yang tersusun dari ketrampilan-ketrampilan dasar.

 

Autisme Kanak-kanak

 

Gangguan perkembangan pervasif (suatu ungkapan yang belakangan ini digunakan untuk mengacu pada masalh-masalah psikologis yang berat yang muncul pada masa bayi) adalah gangguan yang berat pada pertumbuhan kognitif, soaial, tingkah laku, dan emosional anak yang sangat mengahambat proses perkembangan (Lord dan Rutter, 1994 ; Rutter dan Schopler, 1987). Autisme mempengaruhi kualitas-kualitas manusia yang penting, yakni interaksi antarpribadi dan komunikasi. Anak-anak yang mengalami autisme memperlihatkan kerusakan berat pada interaksi interpersonal dan komunikasi.

 

Autisme kelihatan dalam dua jenis kelamin dengan frekuensi 3 atau 4 kali lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan (Bryson, 19996). Gangguan ini ditemukan dalam keluarga-keluarga di seluruh dunia dan dalam semua lapisan masyarakat ( Gilberg, 1990).

 

Simtom

Autism anak-anak merupakan suatu gangguan yang sangat berat dengan 3 simtom utama:

  • Simtom pertama

Anak yang menderita autisme kurang responsive terhadap orang lain. Anak yang menderita autisme kelihatannnya hidup didalam dunianya sendiri dan tidak memberikan respon kepada orang lain yang ada di sekitarnya. Ketika masih bayi, ia tidak menangis kalau ditinggalkan sendirian, tidak akan tersenyum kepada orang lain, dan tidak bersuara dalam memberikan respon terhadap sapaan orang lain. Bila diangkat, ia kaku atau tidak bersemangat (bergerak) dan tidak tidur melekuk pada tubuh orang tuanya seperti yang terjadi pada bayi-bayi normal.

  • Simtom kedua

gangguan komunikasi verbal dan non verbal. Bahkan pada usia 5 atau 6 tahun banyak anak autis sama sekali tidak menggunakan bahasa.

  • Simtom ketiga

Aktivitas-akitivas dan minat-minat yang terbatas dan diulang-ulang. Anak autis mungkin duduk sendirian selama berjam-jam dengn tatapan yang tetap (tidak berubah-ubah) atau berpaling kemuka dan kebelakang tanpa henti-hentinya

 

Autisme kanak-kanak versus skizofrenia kanak-kanak

Ada bermacam-macam faktor yang memisahkan autisme kanak-kanak dari skizofrenia kanak-kanak:

  1. Anak-anak yang menderita autisme jarang memilikim sejarah skizofrenia dalam keluarga. Tetapi sebaliknya, orang-orang yang menderita skizofrenia memiliki sejarah tersebut dalam keluarga (Rimland, 1964)
  2. Anak-anak yang menderita autisme seringkali memperlihatkan perkembangan intelektual yang kurang, tetapi tidak demikian halnya dengan anak-anak yang menderita skizofrenia
  3. Anak-anak yang menderita austime berbicara secara terbatas, sedangkan anak-anak yang menderita skizofrenia memiliki kemampuan berbicara yang normal

 

Penyebab

  • Pendekatan psikodinamik

Penejelasan-penjelasan psikodinamik awal tentang autisme berfokus pada peran dari kepribadian orang tua dan gaya mereka dalam mengasuh anak-anak.

  • Pendekatan belajar

Para ahli teori belajar mengemukakan bahwa tingkah laku abnormal dari anak autis (misalnya merasa malu, tidak beroperatif, marah, mutisme) sering diberikan hadiah-hadiah (prhatian,makanan, mainan) yang dirancang untuk mengalihkan perhatian anak dan mengurangi tingkah laku abnormal (Fester,1961)

  • Pendekatan fisiologis

Perbandingan-perbandingan antara individu-individu autis dan yang tidak tidak autis telah memperlihatkan bermacam-macam perbedaan fisiologis.

 

Perawatan

Bermacam-macam pendekatan telah digunakan untuk merawat autisme kanak-kanak, tetapi tidak satupun dari pendekatan itu yang efektif. Pada waktu pendekatan psikodinamik (psikoanalisis) terhadap autisme dominan, maka perawatan dilakukan menurut pendekatan ini. Tetapi nyatanya progam tersebut tidak efektif untuk merawat anak-anak autis (Levitt, 1963 ; Rimland, 1974)

 

Gangguan-gangguan perkembangan pervasif yang lain

  • Gangguan Rett

Gangguan ini hanya terbatas pda wanita dan berlangsung sepanjang hidup. Cirri-ciri utama dari gangguan ini, yaitu:

  1. Perkembangan motor berlangsung secara normal sampai usia 5 bulan dan setelah itu munculah gangguan-gangguan seperti kehilangan sebagian atau seluruh ketrampilan tangan dan bahasa yang telah diperoleh sebelumnya
  2. Ukuran kepala adalah normal pada waktu kelahiran, tetapi pertumbuhan kepala mulai berkurang antara usia 5 bulan sampai 4 tahun
  3. Kemampuan gerakan tangan yang memiliki tujuan dan ketrampilan manipulasi dari motor halus yang telah terlatih menjadi hilang (antara usia 5 bulan sampai 2,5 tahun)
  4. Gerakan seperti mencuci tangan yang stereo tipis dengan fleksi lengan didepan

 

  • Gangguan asperger

Gangguan ini pada umumnya terdapat pada anak laki-laki dan dalam kebanyakan kasus berlangsung sepanjang hidup. Cirri-ciri utama dari gangguan ini:

  1. Tidak ada hambatan atau ketrlambatan umum dalam prkembangan bahasa atau prekembangan kognitif
  2. Terjadi defisiensi dalam interaksi sosial dan perkembangan pola-pola tinkah laku dan aktivitas-aktivitas yang trbatas dan stereotipis
  3. Meskipun sama dengan autisme, tetapi pada gangguan asperger sering kurang ada penyimpangan dalam bahasa dan komunikasi

 

  • Gangguan Disintergrasi masa kanak-kanak

Gangguan ini lebih umum terdapat pada anak laki-laki dan berlangsung sepanjang hidup. Cirri-ciri utama:

  1. Sesudah anak mengalami perkembangan normal dalam berkomunikasi, hubungan sosial, permainan, dan tingkah laku adaptif samapai usia 2 tahun, maka di susun oleh regresi yang berat dan hilangnya keterampilan-keterampilan tersebut sebelum usia 10 tahun
  2. Hilangnya pengendalian buang air besar atau kecil dan kadang- kadanng disertai dengan kemerosotan pengendalian motorik
  3. Hilangnya minat atau perhatian terhadap lingkungan
  4. Adanya manerisme motorik yang stereotipis dan diulang-ulang
  5. Kekurangan interaksi sosial dan komunikasi yang sama dengan autisme, dan terjadi retardasi yang berat

 

  • Gangguan-gangguan perkembangan khusus

Disini akan disinggung gangguan-gangguan perkmbangan khusus yang disebut juga ketidakmampuan-ketidakmampuan belajar yang relatif baru dan berbeda dengan autisme kanak-kanak. Efek-efek dari gangguan ini sangata khusus karena itu disebut gangguan-gangguan perkembangan khusus.

 

  • Gangguan-ganggun ketrampilan akademis

Gangguan ini meliputi gangguan berhitung, gangguan menulis, gangguan membaca.

 

  1. Gangguan berhitung

Anak-anak yang mengalami gangguan ini akan mendapat kesulitan behitung, yakni anak mengalami kesulitan dalam memahami istilah-istilah matematika dan bagaimana istilah-istilah itu beroperasi

 

  1. Gangguan menulis

Gangguan ini berupa kesalan-kesalahan dalam mengeja, tata bahasa, tanda baca, atau kesulitan dalam menyusun kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf

 

  1. Gangguan membaca

Ciri dari gangguan membaca atau disebut juga dyslexiaadalah kurang terampil dalam mengenali kata-kata dan memahami teks yang tertulis

 

  • Gangguan-gangguan bahasa dan bicara
  1. Gangguan artikulasi

Gangguan ini menyangkut kesulitan dalam mengertikulasikan bunyi-bunyi dalam bicara meskipun tidak ada cacat pada mulut atau gangguan neurologis.

  1. Gangguan bahasa ekspresif

Gangguan ini menyangkut bahasa lisan, seperti perkembangan kosakata yang lambat, seringkali salah dalam menggunakan bahasa, kesulitan-kesulitan dengan tata bahasa.

  1. Gangguan bahasa reseptif

Gangguan ini berupa kesulitan dalam memahami bahasa lisan.

 

  • Gangguan keterampilan motor

Anak-anak yang mengalami gangguan ini memperlihatkan kesulitan yang jelas dalam perkembangan koordinnasi motor dan bukan disebabkan oleh retardasi mental atau gangguan fisik yang diketahui.

 

Ada beberapa strategi, yaitu strategi yang menggunakan beberapa model pendekatan lain dan beberpa diantaranya akan dikemukakan dalam uraian berikut (Lyon dan Muats, 1988)

  1. Model psikoedukasional

Pendekatan-pendekatan psikoedukasional memberi penekanan pada kekuatan-kekuatan dan preferensi-preferensi anak dan bukan pada usah-usaha untuk memperbaiki cacat-cacat kognitif mendasar yang direka-reka.

  1. Model tingkah laku

Model tingkah laku ini mengasumsikan bahwa belajar akademis merupakan suatu bentuk tingkah laku kompleks yang tersusun dari ketrampilan-ketrampilan dasar.

 

 

 

GANGGUAN GANGGUAN MAKAN

 

Ada 2 macam gangguan makan, yakni anorexia nervosa dan bulimia nervosa.

  • anorexia nervosa

simtom utama dari gangguan ini adalah menolak untuk mempertahankan berat badan sesuai dengan usia dan tinggi yang normal.individu yang mengalami gangguan ini9 tidak merasa lapar atau menolak untuk makan.

  • Bulimia nervosa

simtom utama bulimia nervosa adalah makan banyak. Selama makanb banyak, individu menghabiskan sejumlah makanan dalam waktu yang sangat singkat.makan baru berhenti ketika individu tidak bias makan lagi dan menderita sakit perut. Segera setelahnya individu akan muntah. Hal tersebut berupaya untuk menghindari berat badan dan kegemukan.

Penyebab: dikemukakanb 3 pendekatan penyebab terjadinya anorexia dan bulimia nervosa, yakni pendekatan psikodinamik, pendekatan belajar, dan pendekatan fisiologis dan genetic.

Perawatan : perawatan psikodinamik biasanya bergerak sekitar usaha untuk menghilangkan depresi dan memperbaik self-concept karena factor tersebut dilihat sebagai penyebabnya.

Gangguan makan lainnya ada 2 yaknin pica dan ruminasi, tetapi kedua gangguan ini jarang terjadi biasanya terjadi pada bayi atau anak- anak yang masih kecil.

  • Pica

simtom utama pica adalah selalu memakan bahan bahan yang bukan makanan, seperti cat, plester, rambut, kain , pasir, binatang kecil, daun, batu kerikil,kotoran binatang. Alasannya masih belum diketahui

  • Ruminasi

simtom utama ruminasi adalah terus menerus memuntahkan makanan. Pemuntahan tidak berarti muak, melainkan anak mengeluarkan sebagian makanan yang dicerna sampai dimulut dan kemudian menyembunya keluar, yang dilakukan itu merupakan kepuasan dan kesenangan tersebdiri pada anak.

 

GANGGUAN GANGGUAN ELIMINASI

Gangguan eliminasi yang akan dibahas adalah enuresis dan encopresis.

  • Enuresis

Gangguan ini terjadi bila anak tanpa terkendalimembuang urine pada pakaian atau tempat tidur dimana anak tersebut dapat mengendalikan air kencingnya. Seorang individu dikatakan menderita enuresis apabiloa ia mengeluarkan air krncing secara tidak tepat sekurang kurangnya dua kali sebulan sesudah usia 5 tahun atau sekurang kurangnya sekali sebulan sesudah usia 6 tahun.

  • Encopresis

Gangguan ni terjadi bila anak dengan tak terkendali mengeluarkan faces pada tempat yang tidak sesuai, missal pada pakaian atau lantai. Seorang individu dikatakan menderita encopresis apabila sekurang kurangnya berusia 4 tahun karena pembiasaan kebersihan harus selesai pada usia tersebut.

Penyebab: ada bermacam macam penjelasan untuk mencari penyebab dari gangguan ini, dikemukakan 3 penjelasan , yakni penjelasan psikodinamik, penjelasan teori belajar, dan penjelasan fisiologi.

Perawatan: pertama tama perawatan yharus ditunjukan pada usaha untuk menghilangkan tegangan emosi yang mendasari kesulitann tsb, dan bukan pada simtomnya sendiri. Untuk itu mungkin diperlukan psikoterapi yang luas.

GANGGUAN GANGGUAN TIDUR

  • Somnambulisme

Somnambulisme yang disebut juga dengan sleep walking adalah reaksi dimana individu berada dalam keadaan seperti mimpi mengembara atau berjalan jalan serta melakukan keghiaatan kegiatan tertentu, tapi tidak dapat mengingatnya lagi ketika ia sadar.

  • Mimpi buruk dan terror tidur

Mimpi buruk, terbangun dari tidur malam atau siang berkaitan dengan mimpi yang menakutkanyang dapat diingat kembali seara terperinci dan jelas.

Terror tidur adalah keadaan menakutkan yang muncul selama tidur, disertai dengan teriakan, keluarnya keringat, memukul-mukul, menangis atau bahkan halusinasi.

  • Narkolepsi

Mengantuk pada siang hari yang sering menyebabkan tidur selama beberapa menit atau bahkan beberapa jam yang tidak dapat dijelaskan sebagai akibat dari kurang tidur pada malam hari

  • Insomnia dan apnea tidur

Insomnia adalah gangguan tidur dimana seseorang secara terus menerus mengalami kesulitan tidur atau bangun terlalu cepat.

Apnea tidur yakni pernapasan berhenti untuk sementara, hal inilah yang menyebabkan orang mnedengkur dan merupakan salah satu sindrom kematian bayi yang terjadi secara tiba-tiba.

 

GANGGUAN GANGGUAN KECEMASAN MASA KANAK- KANAK

Gangguan kecemasann pada m,asa kanak kanak meliputi gangguan rasa cemas akan perpisahan, gangguan untuk menhindar, gangguan kecemasan berlebihan.

  • gangguan kecemasan perpisahan

kecemasan dan kekahwatiran yang tidak realistic pada anak entang apa yang akan terjadi bila ia berpisah dengan orang orang yang berpranpentingdalam hidupnya misalnya orang tua.

  • Gangguan menghindar

Enggan berhubungan dengan orang orang yanbg tidak dikenal yang mengganggu fungsi social anak itu dengan kawan kawan sebayanya.

  • Gangguan kecemasan yang berlebihan

Kekahwatiran atau kecemasan yang terus menerus dan berlangsung lamaterhadap peistiwa pada masa yang akan dating tingkahlaku pada masa lampau dan kemampuan.

 

GANGGUAN GANGGUAN KEBIASAAN

  • Tics

Adalah gerak gerakan pengejangan yang habitual dari satu kelompok kecil otot tertentu.sering terjadi pada masa sekolah dasar lebih sering terjadi pada anak laki laki dari pada perempuan.

  • Menghisap jempol, menggigit kuku dan menjilat bibir

Tahun tahun awal masa kanak kanak menunjukan gangguan gangguan oral yang banyak terjadi misalnya menghisap jempol, menggigit kuku, dan menjilat bibir. Menggigit kuku sebagai simtom tegangan emosi cenderung terus bertahan sepanjang usia remaja.

  • Masturbasi (onani)

Orang memanipulasikan alat kelaminnya sedemikian rupa sehingga ia mendapat kepuasan seksual atau orgasme yang sebenarna merupakan kepuasan semu.

  • Berbohong mencuri dan membolos.

Ketiga hal ini sering terjadi sebagai gangguan gangguan dikalangan anak anak pada remaja yang masih kecil.

 

Sumber:

http://www.ritahanjaya.com/

https://ratudwinandamasdar.wordpress.com/

http://rnimaniar.wordpress.com/

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s